AIR ITU MENGALIR

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. QS. Ar – Rahman Ayat 49-50

Membuat 3D Map Semarang dengan Google SketchUp 8

Google membuat program Google SketchUp yang memungkinkan orang di seluruh dunia untuk membuat berbagai macam model bangunan 3D

Menampilkan Foto Toponimi di ArcGIS 10

Dengan perkembangan gasetir (basis data toponim) dijital dan teknologi pencarian data, keberadaan toponim menjadi lebih dibutuhkan. Gasetir harus bisa menjadi spatial identifier terhadap data nama-nama geografis.

Klasifikasi Kedalaman Laut Pesisir dengan ArcGIS 10

Dengan ArcGis 10 kita dapat membuat peta kedalaman laut pesisir sementara dengan cepat, karena tidak semua peta yang kita butuhkan semua tersedia dalam bentuk digital masih banyak data-data dalam hardcopy (analog).

Menghitung Volume Galian dan Timbunan Untuk Rencana Pertambangan dengan AutoCad Land Development (ALD)

Dalam pekerjaan tanah (earthwork) Teknik geodesi,antara lain banyak diperlukan perhitungan volume tanah, baik untuk pekerjaan galian (cut) maupun pekerjaan timbunan (fill).

Saturday, August 27, 2016

Export Raw Data Foto Udara Digital dengan Capture One

Foto udara merupakan hasil pemotretan pada satu daerah yang memiliki ketinggian tertentu menggunakan sebuah kamera pada ruang lingkup atmosfer. Contohnya, seperti proses pemotretan yang dilakukan di atas pesawat terbang, balon udara, helikopter, drone, dan berbagai wahana yang mengudara lainnya.
Keuntungan menggunakan foto udara yaitu memberikan hasil gambar atau menciptakan citra yang jauh lebih baik dan detail, tidak terkena awan, sistem pengoperasiannya berada di bawah awan. Sedangkan untuk kelemahan dari foto udara adalah terbangun atas berbagai kumpulan scene kecil yang sangat banyak, sistem pemotretan pada area yang jauh lebih luas dengan yang lain. Sistem pengoperasian foto udara tergantung dengan faktor cuaca dan angin. Contohnya, ketika menggunakan wahana pesawat memberikan hasil foto udara yang kurang stabil dan bagus jika dihempas tiupan angin yang kencang, hasilnya pun kurang optimal dan stabil.

Kelemahaan yang lain menggunakan foto udara, foto udara harus disertai dengan pengambilan ground point control lapangan untuk melaksanakan proses koreaksi geometrik. Jika tidak dilakukan seperti ini, hasilnya kurang akurat dan sangat rendah dari sisi geogmetrik. Jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan foto udara lebih mahal dibandingkan menggunakan citra satelit karena banyak kebutuhan yang diperlukan. Mulai dari izin penerbangan jika menggunakan helikopter atau pesawat terbang, biaya operasional pesawat, biaya lapangan, pengambilan koordinat GCP dan masih banyak yang lainnya.

Pada posting kali ini saya menampilkan contoh hasil foto udara digital dengan Optech Cs1000 dengan klasifikasi alat sebagai berikut:
Sensor type = 80-Mpix full frame CCD, RGB
Sensor format (H x V) = 10320 x 7760 pixels
Pixel size = 5.2 x 5.2 µm
Lens = 50 mm/70 mm/120 mm/210 mm

Lanjuttt...

1. Berikut contoh Raw data foto udara dengan format digital.

2. Raw image tersebut berformat .iqq dengan ukuran ukuran per file sekitar 40 Mb.

3. Untuk software Pre Processing Image kita bisa menggunakan software bawaan Optech seperti Pixel Physics atau Capture One. Sehingga akan didapatkan output image berformat TIFF (10320 x 7760 pixels, 8 atau 16 Bit).
- Buka Aplikasi Capture One

- Tampilan awal, klik import pada pojok kanan atas

-Jendela Import, dan browse lokasi penyimpanan Raw data Foto udara, klik Import All

- Tunggu hingga proses selesai, cara ini juga dapat dilakukan untuk viewer pengecekan kualitas Foto udara saat setelah dilakukan pemotretan.
  
- Raw data Foto udara akan berwarna agak kemerahan seperti berikut

- Kita bisa mengubahnya dengan colour balance dengan meng klik Tool Pick White Balance berikut
  
- Raw Foto akan berubah

 - Untuk Mengubah foto lain secara otomatis klik Copy Adjustment

- Kemudian select semua foto atau Ctrl A, klik Aply Adjustment
  
- Secara otomatis semua foto akan berubah warna

- Untuk Mengexport menjadi Tiff, kita klik Export Image > Variant,

- Jendela Export dan settng image output yang di inginkan, kemudian klik Export

- Tunggu hingga proses selesai

- Hasil Output Foto Udara dalam format TIFF

4. Dalam Format Tiff ukuran file foto udara akan membesar dari 40 Mb (Raw Data) menjadi 458 Mb per image

####SEMOGA BERMANFAAT#### 

Monday, August 8, 2016

Raw Data Foto Udara Digital Hasil Pemotretan Optech CS-1000

Foto udara merupakan hasil pemotretan pada satu daerah yang memiliki ketinggian tertentu menggunakan sebuah kamera pada ruang lingkup atmosfer. Contohnya, seperti proses pemotretan yang dilakukan di atas pesawat terbang, balon udara, helikopter, drone, dan berbagai wahana yang mengudara lainnya.
Keuntungan menggunakan foto udara yaitu memberikan hasil gambar atau menciptakan citra yang jauh lebih baik dan detail, tidak terkena awan, sistem pengoperasiannya berada di bawah awan. Sedangkan untuk kelemahan dari foto udara adalah terbangun atas berbagai kumpulan scene kecil yang sangat banyak, sistem pemotretan pada area yang jauh lebih luas dengan yang lain. Sistem pengoperasian foto udara tergantung dengan faktor cuaca dan angin. Contohnya, ketika menggunakan wahana pesawat memberikan hasil foto udara yang kurang stabil dan bagus jika dihempas tiupan angin yang kencang, hasilnya pun kurang optimal dan stabil.

Kelemahaan yang lain menggunakan foto udara, foto udara harus disertai dengan pengambilan ground point control lapangan untuk melaksanakan proses koreaksi geometrik. Jika tidak dilakukan seperti ini, hasilnya kurang akurat dan sangat rendah dari sisi geogmetrik. Jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan foto udara lebih mahal dibandingkan menggunakan citra satelit karena banyak kebutuhan yang diperlukan. Mulai dari izin penerbangan jika menggunakan helikopter atau pesawat terbang, biaya operasional pesawat, biaya lapangan, pengambilan koordinat GCP dan masih banyak yang lainnya.

Pada posting kali ini saya menampilkan contoh hasil foto udara digital dengan Optech Cs1000 dengan klasifikasi alat sebagai berikut:
Sensor type = 80-Mpix full frame CCD, RGB
Sensor format (H x V) = 10320 x 7760 pixels
Pixel size = 5.2 x 5.2 µm
Lens = 50 mm/70 mm/120 mm/210 mm

Lanjuttt...

1. Berikut contoh Raw data foto udara dengan format digital.

2. Raw image tersebut berformat .iqq dengan ukuran ukuran per file sekitar 40 Mb.

3. Untuk software Pre Processing Image kita bisa menggunakan software bawaan Optech seperti Pixel Physics atau Capture One. Sehingga akan didapatkan output image berformat TIFF (10320 x 7760 pixels, 8 atau 16 Bit).


Monday, July 11, 2016

Kalibrasi Boresight dalam Akusisi Lidar


Airbone LiDAR maupun MMS merupakan teknologi yang modern dan canggih, namun bukan berarti alat tersebut tidak memiliki kesalahan. Setiap alat memiliki kesalahan yang tidak dapat dihilangkan.
Kesalahan pengukuran MMS terdapat pada setiap komponen atau sistem yang saling terhubung. Adapun diantara kesalahan pengukuran MMS akan disebutkan dibawah ini.

 Boresight offset error

Kesalahan ini mempengaruhi koordinat horisontal dan koordinat vertikal. Kesalahan yang terjadi setelah kalibrasi pada roll dan pitch biasanya memiliki rentang 0,004° hingga 0,02°. Berikut ilustrasi pengaruh kesalahan roll, pitch dan heading yang terjadi pada MMS. Kesalahan pada heading dua kali lebih besar dari pada kesalahan yang terjadi pada roll dan pitch (Katzenbeisser, 2003). Kesalahan boresight yang mengakibatkan terjadinya kesalahan elevasi pada objek tanah diakibatkan oleh kesalahan rotasi roll, sedangkan kesalahan horizontal yang dapat diketahui melalui objek bangunan merupakan kesalahan dari rotasi rol, pitch, dan heading. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan rotasi dari sistem IMU terhadap sistem laser scanner.

Solusi

Boresight kalibrasi merupakan bagian dari kalibrasi Lidar Sistem dan berfokus pada kesalahan boresight. Tidak ada pedoman standar yang tersedia di pasar untuk melakukan kalibrasi ini. Algoritma untuk menghitung kesalahan boresight / sudut misalignment serupa dalam Sistem Lidar Airborne dan Mobile Lidar System. Tetapi metode akuisisi data pasti berbeda. Sistem MLS bisa menangkap fitur yang sama dengan arah yang berlawanan untuk bekerja di luar kesalahan boresight. Oleh karena itu, baik keselarasan baik atau keselarasan buruk akan menjadi jelas terlihat.


Berbagai metode memperoleh data yang sesuai untuk menilai sudut boresight antara IMU dan laser scanner dari sistem MLS yang ada. Beberapa metode ini memerlukan terrestrially disurvei situs tes memberikan koordinat mutlak akurat untuk, misalnya, target retro-reflektif bentuk dikenal dan ukuran. Prosedur lain mengandalkan memindai objek dari ukuran diketahui dan posisi dari arah mengemudi yang berbeda dan jarak. (Rieger et al., 2010) Hanya beberapa dari mereka bisa mencapai kalibrasi on-the-fly dan menggunakan algoritma otomatis untuk memecahkan nilai boresight. Metode dari Riegl (menggunakan permukaan planar yang sesuai terletak di awan titik tiga dimensi), POS MV (secara terpisah Roll, patch, Yaw Test), GEOMATRICS ENGINEERING (untuk membangun model yang sisa 3D baru yang dikombinasikan fitur dan catenary berbasis fitur berbasis direncanakan- dan kemudian melakukan kuadrat) diperkenalkan dalam tesis ini.

Tahap pertama dari kalibrasi LIDAR adalah untuk menghitung sudut boresight. Ini adalah sudut di lapangan, roll dan pitch yang menggambarkan arah pointing dari laser scanner sehubungan dengan titik nadir. Menggunakan parameter boresight yang salah akan mengakibatkan kesalahan georeferencing dan kesalahan kotor akan menjadi jelas ketika membandingkan tumpang tindih garis penerbangan, terutama jalur diterbangkan arah yang berbeda-beda ( Foto atas ).


Sebagai kontrol hasil lidar pada area cross area kalibrasi dilakukan pengukuran GPS metode rapid statik secara acak di beberapa titik untuk kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran lidar.


Kalibrasi boresight udara saat ini dilakukan dengan terbang di atas lapangan kalibrasi yang telah didistribusikan dengan baik dan titik kontrol tanah akurat.

Wednesday, June 29, 2016

Menampilkan Raw Data Lidar dengan Aplikasi Global Mapper

Airbone Laser Survey (ALS) atau lebih dikenal dengan  LiDAR merupakan singkatan dari Light Detection and Ranging. Komponen LiDAR adalah sebagai berikut :
1. Laser scanner yang memancarkan gelombang laser ke obyek dan merekam kembali gelombang pantulannya setelah mengenai obyek (misal atap bangunan, pucuk pohon, atau permukaan tanah).
2. GPS (Global Positioning System), yaitu sistem penentuan posisi secara tiga dimensi (3D) untuk menentukan pusat proyeksi setiap citra LiDAR.
3. INS (Inertial Navigation System), yaitu sistem inersial untuk menentukan orientasi 3D setiap pusat proyeksi LiDAR. 


Prinsip penyiaman LiDAR dapat dilihat pada Gambar. Pada wahana yang dipilih (misal pesawat terbang) dipasang Laser Scanner, GPS, dan INS. Berdasarkan skala produk yang diinginkan dan luas cakupan, maka dapat ditentukan jalur terbang. Pada jalur terbang yang telah ditentukan tersebut pesawat melakukan pemotretan/penyiaman (scanning). Pada saat laser scanner melakukan penyiaman sepanjang jalur terbang, pada setiap interval waktu tertentu direkam posisinya (menggunakan GPS) dan orientasinya (menggunakan INS). Proses ini dilakukan sampai seluruh jalur terbang yang direncanakan dapat discan.


Kecepatan emisi sinar laser bisa diatur mulai dari beberapa pulsa per detik hingga puluhan ribu pulsa perdetik. Dengan Demikian pada sesi-sesi pengukuran sinar laser ini bisa terkumpul banyak data titik-titik lidar (Point Cloud) yang mewakili objek-objek permukaan. Pulsa-pulsa sinar laser yang dipancarkan oleh perangkat sistem lidar sebagian besar akan dipantulkan kembali oleh objek-objeknya (baik yang terletak tepat dipermukaan maupun yang terdapat di atasnya/kanopi,vegetasi pohon,bangunan,menara,tower dll).

Dan pada dasarnya data lidar adalah kumpulan baris-baris data (Record) posisi (x,y,z) titik-titik (objek) beserta intensitas dan dekripsinyayang secara keseluruhan sering disebut point cloud (tampilan titik-titik yang membentuk awan). Volume data ini berukuran relatif besar. Sebagai ilustrasi, ukuran total file data hasil survey yang menggunakan perangkat sistem lidar pad area seluas 1 Mil persegi (260 Hektar) bisa mencapai 100 Mb hingga 500Mb.

Data lidar hasil sesi-sesi perekaman dapat disimpan di dalam berbagai format. Data aslinya disimpan sebagai kumpulan data (record) vektor titik-titik 3D yang kemudian dapat dkiproses untuk menghasilkan DSM (raster) dan DTM/DEM (raster) TIN (vektor) atau Garis Kontur (Vektor). Pada umumnya nilai vektor titik-titik tersebut (point Cloud) disimpan dalam format file ASCII, LAS, LDA, atau LAZ.

Pada posting kali ini saya akan mencoba menjabarkan langkah untuk menampilkkan Data Lidar dengan Aplikasi Global Mapper :

1. Buka Aplikasi Global Mapper, pada kali ini yang saya gunakan adalah Global Mapper versi 17
   
2. Tampilan utama Global Mapper v.17

3. Data Lidar disimpan dalam format file LAS

4. Klik open your data dan browse lokasi penyimpanan data lidar, tunggu hingga proses selesai. Kemamppuan komputer sangat mempengaruhi proses membuka data lidar, mengingat data lidar memiliki size yang cukup besar.

5. Sebagai sample saja, saya akan membuka contoh data lidar pada 2 jalur terbang saja atau biasa disebut dengan  2 run dalam pengambilan data lidar.

6. Untuk memudahkan identifikasinya kita bisa meng overlay kan data lidar dengan citra

7. Hasil Overlay Data Lidar dengan citra

8. Dengan menampilkan data lidar tersebut kita bisa melihat kualitas hasil akusisi lidar seperti ada tidaknya gap dan point intensity nya.
-   Berikut contoh adanya gap antar jalur terbang / run yang belum terambil lidar.
  
9. Pada Global Mapper kita juga dapat mengetahui Point Density dari data lidar. Point density adalah Banyaknya poin laser per meter persegi. Untuk mengecek point density kita lakukan secara sampling saja.
- Pertama kita buat area, dengan klik kanan > Create Area / Polygon Feature > Create Square Area of Fix Ground Area 

- Membuat Area 100 sq m

- Kotak seluas 100 m2

- Pada Overlay Control Center Klik Metadata

- Akan muncul jendela berikut, perhatikan pada Lidar Point Density tertulis 12,13 point / m2

 ####SEMOGA BERMANFAAT####

Monday, June 27, 2016

Perencanaan Jalur Terbang ( Foto Udara dan Lidar ) dengan ALTM-NAV


Penentuan jalur terbang Pesawat bergantung pada beberapa faktor yaitu :

1. Lokasi bandara
2. Luas, bentuk area dan keadaan topografi yang akan dipetakan
3. Karakteristik sensor lidar dan 
4. Karakteristik pesawat udara
5. Karakteristik sensor kamera

Saat ini membuat rencana jalur terbang dapat dilakukan dengan mudah dan otomatis dengan software ALTM-Nav. Perencanaan Jalur Terbang biasanya juga disesuaikan dengan persyaratan mengenai overlap dan sidelap serta nilai resolusi untuk skala peta yang di hasilkan. 

Spesifikasi Pekerjaan / Output pekerjaan yang di inginkan 

- Jalur terbang pada daerah datar yaitu Timur-Barat atau Utara-Selatan.
- Jalur terbang diagonal akan digunakan pada area dengan terain bergunung
- Pertampalan kemuka (forward overlap) yaitu 65% ± 5%
- Pertampalan kesamping (side overlap) yaitu 30% ± 5%
- Pada daerah pegunungan, nilai pertampalan dinaikkan, pertampalan kemuka menjadi 70% dan pertampalan kesamping menjadi 40%
- Ground Sampling Distance (GSD) yaitu sebesar 9 cm
- Point Density Lidar sebanyak 4 point per m persegi.
- Tinggi terbang akan dihitung untuk memperoleh nilai GSD tersebut dan menyesuaikan panjang fokus kamera yang digunakan

- Reflight akan dilakukan apabila ada persyaratan yang tidak terpenuhi
Sebagai latihan, berikut Contoh data karakteristik sensor lidar, pesawat udara, dan sensor kamera yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membuat  jalur terbang Pesawat:
( Sistem lidar terintregrasi dengan foto udara )


1. Spesifikasi sensor Lidar 
- Operating Altitude = 200-2500 m nominal
- Laser repetition rate = 50 Khz, 70 Khz, 100 Khz, 150 Khz, 200 Khz.
- Range capture = up to 4 range measurement for each pulse including last
- Intensity capture = 12 bit dynamic range for each pulse including last
- Scan Frequency = 0 - 70 Hz, programeble in 1 Hz
- Scan Angle = Variable from 0 to +-25 degress, in increments of +-1 degress
- Scanner Product =  Scan Angle x Scan frequency <= 1000
- Swath width = variable, 0 - 0.93 x altitude m 
 
 2. Spesifikasi sensor kamera
- Sensor type = 80 Mpix full frame CCD, RGB
- Sensor Format ( H x V ) = 10320 x 7760 pixels
- Pixel Size = 5.2 x 5.2 mikron
- Frame Rate = 1 frame/sec 
- Lens = 50 mm, 70 mm, 120 mm, 210 mm

(Pesawat double Engine)

3. Spesifikasi Pesawat
- Balance Field Length = 1.350
- Landing Distance = 3034
- Climb Rate All Engines = 1050
- Normal Cruise Speed = 158
- Climb Rate One Engine Inop = 215
- Normal Cruise Speed ( Long Range ) = 150   
- Max Cruise Speed = 170

Hubungan Tinggi Terbang, Fokus Kamera dan GSD yang dihasilkan pada foto udara



4. DEM (Bisa menggunakan SRTM) Fungsi srtm disini adalah untuk referensi ketinggian pesawat dari permukaan tanah. Dan mengetahui gambaran kondisi topografi pada area pengukuran.

 
Buka Aplikasi ALTM-Nav kemudian pada menu bar pilih Flight Plan > Plan Survey. Kemudian pada jendela Plan Survey Grid akan muncul tampilan berikut :


Untuk memasukan batas area pengukuran klik Draw Area. Klik Optimize untuk menentukan jalur pesawat secara otomatis. Kemudian menginputkan data parameter lidar, sensor kamera dan pesawat maka aplikasi akan menghitung otomatis parameter lain. Kita menginputkan parameter sampai menemukan setingan yang pas dan sesuai dengan output di inginkan.


Untuk menemukan settingan yang sesuai kita berpedoman pada tabel berikut


Contoh setelah di input kan DEM SRTM


####SEMOGA BERMANFAAT####